You Are Reading

3

Jawaban 123

Luna Azzura Sabtu, 03 September 2011

“Aku rasa, Mesir dengan Sungai Nil itu jodoh”. Saya harus setuju dengan perkataan Maria itu. Mereka memang jodoh. Seperti gemblong dengan tape. Seperti ketupat dengan opor. Seperti saya dengan kamu (baca: penulis dengan buku). Terinspirasi menulis ini setelah melakukan obrolan singkat dengan penulis-penulis hebat lainnya, yang senantiasa belajar mengungkapkan sesuatu melalui bahasa verbal. Bedanya, saya memilih makna konotasi seperti kebanyakan penulis romantis. Ciyyyeee… Dan dari mereka yang berdenotasi, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. O ya, satu hal. Penulis yang saya maksudkan di sini bukan seseorang yang rajin membuat buku, tapi orang-orang luar biasa yang berani menentukan sikap.
Jadi, ketika saya bilang, “Memang begini adanya, aku yang terlahir melankolis di tengah-tengah orang yang realistis.” Kemudian, tau apa? Salah satu sahabat saya… Saya ralat. Salah satu sahabat terbaik saya mengatakan, “Kamu kebanyakan membaca buku.” Kalimat yang sama yang diucapkan seorang teman SMP ketika dia bertemu dengan saya dan mencoba mengingatkan tentang beberapa hal. “Ingat nggak, dulu kita pernah latihan di masjid?”, “Masih ingat sama si ini?”, “Masa udah lupa sama si itu, sih?”, “Jadi, kamu tidak ingat?”. Dan jawabanku hanya “Errr…”, “Eh…”, “Hmmm…”, “Kayaknya…”. Akhirnya, teman saya itu putus asa, lalu mengatakan, “Sepertinya Ani mengalami gangguan ingatan. Kebanyakan baca buku, sih!”. Ha??? Buku lagi yang dipersalahkan. Buku, lagu… Memang semua itu ternyata sangat membahayakan kejiwaan saya. Hahaha…
Terbukti dengan adanya percakapan antara saya dengan kaca. K untuk kaca. S untuk saya.
S: Hai, cermin…
K: Hai juga. Tumben nggak bertanya, “Cermin, siapa yang paling cantik di dunia ini?”
S: Karena aku sudah tau jawabannya. Pasti aku, selalu.
K: Kalau aku memberikan jawaban lain?
S: Aku tidak akan mendengarnya. Dan ku pastikan jawaban seperti itu tidak akan pernah terdengar.
K: Ini orang aneh sekali. Tidak pernah stabil.
S: Ngomong apa?
K: Nggak ada.
S: *mulai menyanyi* No one ever saw me like you do…
K: Eaaa, ada yang mulai galau.
S: … Cause there something in the way, you look at me…
K: Hei, Moluska! Makanya, lepaskan saja cangkangmu. Jangan terlalu melindungi diri. Biarkan orang lain yang melakukannya.
S: Errr… Ini cermin diciptakan dari planet mana, sih? Berisik banget!
K: Galak! Mana ada yang tahan.
S: Diam!!! Bisa diam, ga?
K: Makanya, jadi orang jangan SO!!!
S: *lari ke gudang, ambil palu, menodongkannya ke arah cermin*
S: Siapa yang Study Oriented? Siapa??? Ayo, bilang!!! Sekali lagi kau bicara begitu, maka kau tidak akan melihat cahaya lagi seumur hidupmu. #emangnya cermin punya umur
K: *diam saja*
S: Kau tahu? Aku bukan SO. Aku hanya ingin membangun seluruh hidupku dengan mengandalkan sesuatu yang bisa aku kendalikan. Hanya studiku. Dan karirku nanti. Di luar itu, aku tidak bisa mengendalikan apa-apa. Termasuk perasaan sendiri. Aku tidak punya stabilizer, jadi aku tidak tau bagaimana caranya mengontrol apa yang seharusnya hatiku lakukan. Jadi, jangan bicara apapun lagi kecuali “Engkau lah wanita tercantik di dunia” ketika ku tanya.
Si kaca tidak menjawab ataupun mengatakan apa-apa lagi. Saya duduk dan mendapati seekor kucing menghampiri. Entah ada kekejaman darimana, tiba-tiba saja saya bilang, “Haduh… I don’t care about anyone or anything. So, go away from me for a while. Please… Don’t show your face in front of me. Not now.” Kucing itu hanya menatap saya, lalu pergi tanpa mengeong. Grrr… Ini semua gara-gara kaca itu. *Nah, sekarang kaca yang menggantikan posisi buku, jadi kambing hitam* Lihatlah! Seluruh dunia dan isinya mengerti saya. Hanya saja, mungkin saya yang kadang-kadang tidak bisa mengerti diri sendiri.
Kemudian, saya memberi informasi kepada salah satu orang penting yang selama tiga tahun terakhir menemani saya di satu menara. “Hatiku sedang tidak enak. Butuh dihibur.” Ketika dia bertanya kenapa dan saya tidak memberi jawaban yang memuaskan, dia malah menanyakan THR di lebaran pertama. *gubrak* Jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat itu malam hari dan saya tau dia sangat lelah. Saya, yang dengan egoisnya menyerbu dengan airmata dan tindakan ababil. Hehehe… Mau tau apa yang dia lakukan? “Aku masih punya es campur di kulkas, tadinya buat buka puasa. Tapi kelupaan. Kita makan sekarang, yuk.” Dia turun, mengambilnya dan kami makan bersama. “Aku hanya ingin Ani makan. Habiskan saja semuanya,” katanya sambil berlalu dan mencuci tangan. Saya terdiam. Dia yang selalu melarang saya minum es, apalagi malam hari. Tapi kali ini, es campur tanpa mangkok dan satu sendok. Dia tidak memilih cara “menepuk-nepuk pundak”, “mengusap airmata”, atau bahkan “memeluk”.
Dan informasi untuk orang penting lain, “Aku sedang tidak ingin ditanya. Apapun. Dan oleh siapapun.” Saya mendapat jawaban, “Baiklah…”. Hening sesaat. Saya baru sadar bahwa ada orang-orang yang tanpa saya membuka mulut, mereka tau apa yang terjadi, apa yang harus dilakukan dan apa yang saya butuhkan. Karena itulah, mereka sangat berarti bagi saya. Mereka lebih dari sekadar paham bahwa saya ingin didengar dan ditemani, bukan diajak diskusi atau diintimidasi. –Jika kamu mengatakan kamu peduli sama saya, maka selamanya kamu tidak akan pernah mengerti saya. Saya tidak ingin dipedulikan. Cukup kamu yang datang di saat saya benar-benar butuh. Kamu tau kapan waktunya. Radar kita selalu sama. Kamu akan menangkap sinyal yang saya berikan. Karena kita sebenarnya adalah satu jiwa, yang terpisah dalam dua raga-.
Menanggapi kritikan seorang penulis mengenai adat, saya jadi tau lebih banyak tentang perbedaan. Masalah persepsi dan sudut pandang antara dua pihak yang punya ketaksamaan mungkin karena “sejarah”. Kebetulan, saya berasal dari pihak yang sama dengan penulis itu. Menurut saya, kami (saya mewakili pihak yang sama) bisa memberikan sikap yang kalian (mewakili pihak kedua) inginkan. Jika kami mau. Dan kami akan mau, jika kami berpikir itu diperlukan. Beda dengan kalian yang menginginkan sikap itu dengan menganggapnya sangat penting, yang patut diperlihatkan setiap saat. Dalam waktu yang hampir bersamaan, saya menerima kata-kata yang nyaris sama maknanya yang cukup mewakili suara hati kami. “Perempuan. Kami bukan upeti.” dan “If my life is for rent”. How can? Hehehe… Suatu saat, kami pasti akan melakukan perubahan. Kami ingin berubah, bukan karena paksaan. Tapi, kesadaran.
Kemudian saya mengajukan pertanyaan yang cukup menyudutkan kalian. Inti dari jawaban kalian adalah kita jangan terlalu sering melihat ke belakang atau terlalu fokus melihat jarak jauh. Kita sedang melakukan perjalanan. Di sini. Di masa ini. Tau apa penilaian kami terhadap jawaban itu? “Kurang memuaskan.” begitu kata saya. “Terdengar menyepelekan.” begitu kata yang lainnya. Maaf, tapi kami… khususnya saya, tidak biasa berjalan tanpa tujuan. Saya biasa menandai “apapun” yang saya suka dan inginkan. Saya selalu membuat proposal untuk itu, kemudian menukar harapan dengan keajaiban. Semoga Allah dan semesta alam berkonspirasi untuk meng-ACC.
Oleh karena itu, saya merasa sedikit kecewa ketika menemukan hipotesis yang memberitahu saya bahwa sejauh apapun saya berjalan atau malah bahkan berlari, pada akhirnya saya hanyalah menempuh satu putaran. Gerak rotasi, bukan translasi. Hanya mengguling, tidak menggelinding. Hukum alam yang menyebabkannya, kita akan kembali ke titik awal dimana kita memulai perjalanan ini. Ada orang penting yang bilang pada saya, bentuk yang paling stabil adalah lingkaran. Jadi begitu. Kalau boleh memilih, lebih baik saya menjadi tidak stabil selamanya. Bukankah itu semua rahasia Allah? Lalu kenapa, saya sembarangan menerjemah? Sekali lagi, ini hipotesis. Bukan kesimpulan. Terngiang kepasrahan navigator saya, “Jika ini adalah cara-Mu untuk membuatku lebih kuat, Tuhan… aku terima”.
Menurutnya, dalam sebuah perjalanan… ada rekan yang menemani kita. Lalu berpisah di tikungan karena dari awal tidak satu tujuan. Ada yang malah bertemu rekannya, di ujung jalan walaupun dari awal tidak pernah menjadi rekan seperjalanan. Ada pula, yang berpisah di tikungan… kemudian bertemu lagi di ujung jalan, karena salah satu ada yang memutar atau bahkan kembali ke jalan tadi, menyamakan tujuan dan akhirnya dituntun untuk “pulang”. Tugas kita hanya melanjutkan perjalanan dan ikuti petunjuk.
Jadi, inilah semua jawabannya. Kenapa saya sering diam tanpa alasan. Kenapa saya suka berlebihan menanggapi kesederhanaan. Kenapa saya terus-terusan berlari walau berkali-kali mengatakan ingin berhenti. Dan kenapa saya tidak menyerah walaupun sudah sangat lelah. Karena sebenarnya saya adalah seseorang yang sedang belajar. Belajar seumur hidup. Bahwa perbedaan tidak bisa hanya dimengerti karena itu semua dijalani dan butuh asupan toleransi yang luar biasa. Bahwa Allah sedang mengajarkan arti keikhlasan dan kesabaran, yang tidak diajarkan di sekolah atau perguruan tinggi manapun. Akhirnya saya bisa menjawab kebingungan seorang teman yang tidak tau harus mengendarai yang mana apabila bersabar dan bersyukur adalah sebuah tunggangan. Ternyata, terlalu banyak hal yang tidak saya syukuri, sehingga sering menyebabkan ketidaksabaran. Saya ikhlas, benar-benar selalu mencoba untuk ikhlas.
-Jika mengetok palunya terlalu pelan, maka paku tidak akan masuk. Usahakan tidak ada ruang untuk kelemahan. Baiklah… Ketok saya berkali-kali kalau begitu.-

3 komentar:

khusnul khotimah mengatakan...

hmmm,, ajarin bikin cerpen donk,,,,,,,,
cerpenku perlu bgt tuh masuk bengkeL,.,,,

umu latifah mengatakan...

menulis apa yang difikirkan dan dirasakan, saya masih belajar. saya sadar bakat menulis atau melankolis mungkin tidak pernah mengalir dalam diri saya, tapi saat saya membaca tulisan orang lain tentang kisah, cerita, novel, termasuk tulisan anda, saya merasa ingin tetap jadi penulis karena itu cita2 pertama yang saya temukan dengan hati saya, tanpa memedulikan realitas atau honor yang saya terima nantinya. saya masih belajar, saya masih tertatih, belum sanggup berdiri, berjalan tau bahkan berlari seperti anda. saya sadr saya akn merasakn jatuh berkali-kali sakit berkali-kali jenuh berkali-kali, saya tahu itu. tapi satu hal, saya tidak akan pernah berhenti, seburuk apapun cerita yang saya tulis, seaneh apapun kata-katanya, saya ti dak mau menyerah, entah akan membuang waktu atau tidak, saya tidak mau berhenti seperti pada tulisan anda "Kenapa saya terus-terusan berlari walau berkali-kali mengatakan ingin berhenti. Dan kenapa saya tidak menyerah walaupun sudah sangat lelah. Karena sebenarnya saya adalah seseorang yang sedang belajar. Belajar seumur hidup." terima kasih sudah membagi tulisan anda, saya masih harus banyak belajar, dan menulis pastinya

umu latifah mengatakan...

menulis apa yang difikirkan dan dirasakan, saya masih belajar. saya sadar bakat menulis atau melankolis mungkin tidak pernah mengalir dalam diri saya, tapi saat saya membaca tulisan orang lain tentang kisah, cerita, novel, termasuk tulisan anda, saya merasa ingin tetap jadi penulis karena itu cita2 pertama yang saya temukan dengan hati saya, tanpa memedulikan realitas atau honor yang saya terima nantinya. saya masih belajar, saya masih tertatih, belum sanggup berdiri, berjalan tau bahkan berlari seperti anda. saya sadr saya akn merasakn jatuh berkali-kali sakit berkali-kali jenuh berkali-kali, saya tahu itu. tapi satu hal, saya tidak akan pernah berhenti, seburuk apapun cerita yang saya tulis, seaneh apapun kata-katanya, saya ti dak mau menyerah, entah akan membuang waktu atau tidak, saya tidak mau berhenti seperti pada tulisan anda "Kenapa saya terus-terusan berlari walau berkali-kali mengatakan ingin berhenti. Dan kenapa saya tidak menyerah walaupun sudah sangat lelah. Karena sebenarnya saya adalah seseorang yang sedang belajar. Belajar seumur hidup." terima kasih sudah membagi tulisan anda, saya masih harus banyak belajar, dan menulis pastinya

Poskan Komentar

Harus bin wajib isi komentar.. oke.. hehe

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
Copyright 2010 FIKSI