You Are Reading

1

Fatamorgana cinta

duniadhan Selasa, 04 Januari 2011 , ,
Sumber Gambar: http://dikacrutin.com/wp-content/uploads/2010/11/cinta1.jpg
Makna cinta menggores luka. Mencipta seribu bahasa. Terdiam kaku dalam fatamorgana. Cinta ... inikah dunia ?? Seolah sudah tak ada guna. Hanya cukup memendam rasa dan kecewa.
Berulang kali aku sadarkan diriku. Menghilangkan semua kata-kata di tabloid otakku. Aku terus berusaha, kembali ke dunia nyata. Namun, ruang dalam waktu seolah berbicara agar aku tetap di sana, menikmati setiap kata yang aku ciptakan secara tidak sengaja.
“Noe melihatmu!” bisik Wein di telinga kananku. Mendengar nama pria itu aku dengan mudah kembali ke dunia nyata. Biasanya, hal ini sulit kulakukan. Bahkan sambil berjalan ataupun melakukan aktivitas lain, aku selalu terlihat seperti orang yang tak bernyawa. Tak heran, banyak orang yang takut mendekatiku.
Noe, tentang pria itu, tak pernah ada habisnya. Entah sejak kapan aku tertarik dengan sosok itu. Bukan karena fisik atau penampilannya, tetapi lebih dari itu.
“Hei, bisakah kau membalas tatapannya? Jangan bersikap aneh seperti itu! Kau seperti mayat hidup!!” bisik Wein untuk kedua kali.
Saran Wein ada benarnya juga. Kutatap Noe dengan sepenuh hati. Namun ia malah berpaling dariku dan kembali asyik dengan novel di genggamannya. Aku benar-benar kehabisan akal. Apa yang harus kulakukan agar ia mau memperhatikanku seperti layaknya orang normal. Kalau selama ini ia terus menatapku, bukan karena aku cantik ataupun mempunyai segudang prestasi. Ia melihatku tidak lain karena aku ini aneh. Aku sering terlihat melamun. Menikmati segala khayalan-khayalanku. Aku seperti memiliki dunia yang berbeda. Dunia lain yang lebih asyik dari dunia nyata.
Sejujurnya, itu semua adalah benar. Ya, aku memang mempunyai dunia lain yang bisa membuatku lebih hidup, bahkan enggan untuk kembali pulang ke dunia nyata ini.
“Noe pergi, apa kau tidak ingin me ...” Wein kutinggalkan begitu saja. Padahal ia belum selesai bicara. Tapi aku tahu maksud Wein. Ia menyarankan agar aku mengejar Noe dan berbicara sesuatu dengan pria itu. Setidaknya aku bisa menepis pikiran Noe yang salah tentang diriku selama ini.
“Hei ...” ujarku pelan. Entah mengapa mulutku begitu sulit mengeluarkan kata-kata. Terlalu canggung ketika mendengar suaraku. Sampai-sampai bulu di kedua tanganku merinding layaknya seseorang yang baru saja melihat hantu.
Kulihat Noe tak menghiraukan suaraku. Dia tetap berjalan, melangkahkan kakinya dengan ringan. Jujur, aku kecewa. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat banyak. Mungkin saja dia tak dengar. Lagipula aku memang tidak jelas memanggil siapa.
Sekarang, aku hanya akan mengunjungi sebuah dunia. Dunia yang selalu membuatku seolah-olah aku ini adalah  penguasanya. Ya ... dunia khayalanku. Dunia yang membuatku nyaman  bila berada di sana. Dunia indah di mataku, dan hanya aku yang bisa berada di sana. Tanpa seorang pun di sisiku.
Cinta ... dalam pandangan fatamorgana, hanya lara.
Cinta ... ketika tiba waktunya, tinggalah luka.
Cinta ... ketika harus tak ada, inikah sisa nyata ? Atau hanya asa ?
Namun, aku di sini. Tanpa cinta dalam pandangan fatamorgana.
Hanya dunia hampa serta angan yang tercipta.
Hanya kata dengan seribu makna yang terpendam dalam jiwa.
Hanya airmata yang mengalir bersama luka yang menganga.
Indahnya ... fatamorgana. Bersama cinta tanpa makna.
Dan kehadiran yang tak kunjung ada.
Cinta membekas tanpa arti.
Tak hilang ataupun menari.
Hanya di sini sampai kapan pun nanti.
Tetap menjadi pautan sebuah hati.

“Duniamu indah, itu menurutmu kan?” ujar seseorang ketika aku sedang asyik dengan dunia khayalanku. Lagi-lagi aku terpaksa harus kembali ke dunia nyata ini. Ketika aku menyadarkan diriku, memastikan siapa pemilik suara itu, aku hanya bisa terdiam dengan sejuta perasaan bahagia. NOE! Dia menyapaku ?? Hal ini sulit kupercaya. Apakah aku sudah kembali ke dunia nyata? Atau aku masih tetap dalam fatamorgana?
“Bagaimana ? Sudah kembali ?” ucap Noe dengan suara lembut. Aku hanya mengangguk. Sekarang aku percaya, kalau ini benar-benar dunia nyata. Aku bisa merasakan tangan dingin pria itu menyentuh tanganku. Benar-benar tangan yang sangat dingin. Aku seperti memegang sebuah es batu. Oh bukan ! Tepatnya air es. Karena tangan Noe tak sedingin ataupun sebeku bongkahan es batu.
“Aku ingin tahu kenapa kau melakukan semua ini? Sampai-sampai kau rela semua temanmu menjauhimu? Apa yang menarik dari duniamu?” Noe melemparku banyak pertanyaan. Aku bingung harus menjawabnya darimana.
“Indah ...” jawabku datar.
“Indah? Bagaimana bisa? Apa kau benar-benar menemukan sebuah taman surga dengan ribuan bunga di dalamnya?” Noe benar-benar tertawa.
“Bukan ... aku hanya melihat sebuah ruang hampa namun ketika aku berada dalam ruang itu, aku bisa merasakan kedamaian. Dan seketika itu juga banyak kata-kata indah yang mengalir dari hatiku. Mungkin karena itulah aku merasakan kenyamanan.”
“Kata-kata? Bisa kau ucapkan?”
“Tidak! Karena kata-kata itu hanya bisa kuciptakan ketika aku berada dalam duniaku. Bukan di sini.”
“Ahahahaha .... Kau tahu, perbuatanmu ini sangat aneh!!”
“Aku tidak peduli! Selama aku merasa nyaman, kenapa aku harus menghentikannya? Lagipula aku tidak mengusik kepentingan orang lain?”
“Siapa bilang kau tidak mengusik kepentingan orang lain? Semua orang di sini jelas-jelas membicarakanmu? Apa itu bukan mengganggu?”
“Aku rasa, mereka yang ingin menggangguku! Bukan aku!”
“Tinggalkan duniamu, aku takut kau punya kelainan dalam jiwamu.”
“Maksudmu gila! Kau pikir aku gila?!”
“Bukan ... tapi hatimu!”
“Tahu apa kau tentang hatiku?”
“Hatimu akan sulit berinteraksi dengan orang lain. Dan emosimu, jika memang benar, kau tidak akan lagi mengenal manusia selain dirimu.”
“Omong kosong!”
“Itu kenyataan! Sekarang ... aku bisa lihat kalau hatimu tidak bisa lagi mendengar kata-kataku. Percayalah! Aku bisa membaca semua itu!”
“Percaya? Memangnya kau siapa?”
“Teman!”
“Hanya teman, kan? Jadi, aku sarankan kau tidak usah sok tahu!”
“Apa kata teman tak ada artinya di matamu?”
“Tidak sama sekali!!”
“Kalau begitu, selamat menikmati duniamu!” Noe tersenyum sinis dan segera  pergi meninggalkanku. Dia kecewa dengan sikapku. Tapi aku juga tidak bisa menerima sikapnya yang terlalu kasar padaku. Aku juga heran kenapa dia begitu penasaran dengan duniaku? Sampai-sampai dia terus menanyakan hal itu.
Kupikir Noe ingin mengenalku lebih dekat. Setidaknya menjadi teman untukku. Teman?? Soal itu, aku memang salah. Tak seharusnya aku berbicara ketus kepadanya. Apalagi maksud Noe juga baik. Noe ingin aku lebih mengenal teman-teman di sekelilingku. Ya ... selama ini Noe menganggap, aku tidak punya teman bukan karena aku ini aneh. Tapi karena aku tidak ingin memperlihatkan kepada semua temanku bahwa aku ini ada. Ya ... ada dalam dunia nyata. Bersama mereka.
***
Hari ini sekolah mengadakan kompetisi musik. Seperti biasa, semua murid menyambutnya gembira. Musik ... itulah salah satu ekskul yang paling digemari di sekolah. Mereka menyukai musik karena musik dapat menenangkan hati mereka yang sedang kacau. Tapi, bagiku, satu-satunya jalan untuk menenangkan diriku hanyalah duniaku. Dunia yang kuciptakan sendiri. Dan hanya aku yang bisa mengunjunginya.
Ribuan cinta dalam suatu pusara. Mengelilingi satu jiwa. Karena hilang entah dimana. Maka, hanya tinggal fana. Indahnya bunga. Tak seindah cinta. Namun, ketika cinta dihadapkan pada satu peristiwa. Apakah indahnya akan tetap ada? Atau lekas sirna dan pergi entah kemana? Tentang makna cinta. Siapa peduli dengan semuanya?! Hanya saja ... ketika telah membekas karenanya. Makna cinta pun mencipta luka yang menganga.
“Hei, datang juga ? Kupikir kau tak jadi datang ?” Wein meledekku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Oh iya, kau bertengkar dengan Noe, ya ? Kenapa ?” tanya Wein padaku. Aku berpikir darimana Wein tahu semua ini.
“Kau tahu darimana ?”
“Rahasia !”
“Kalau begitu, aku tidak mau memberitahu. Dan urusan selesai ...”
“Kau ini ! Menyebalkan !” Wein menggerutu dengan sikapku yang tak pernah berubah. Keras kepala !!
“Kau lebih menyebalkan,” balasku sambil tersenyum kecil melihat raut wajahnya yang begitu kesal.
“Oke, aku akan bilang. Kemarin aku melihatmu ...”
“Memataiku ?”
“Tidak ! Sudahlah, kau janji ingin cerita kan ?”
“Dia yang memulainya.”
“Memulai apa ?”
“Dia bilang aku ini ... aku ...”
“Kenapa ?”
“Tidak kok ! Kupikir dia hanya salah paham ...”
“Kau seperti menyembunyikan sesuatu ?”
“Tidak !”
“Ya !”
“Tidak !”
“Ya !”
“Sudah, aku tidak mau membahasnya ! Lagipula tujuanku ke sini hanya ingin menikmati kontes musik ini. Bukan berdebat denganmu !”
“Siapa bilang aku mengajakmu berdebat ? Aku hanya ingin ... Nuan ! Nuan !” Lagi-lagi kutinggalkan Wein sendiri. Aku tak peduli lagi dengan ucapannya. Dia terlalu keras kepala untuk mendengarkan semua ceritaku. Lagipula aku juga tidak mau ambil pusing dengan permasalahan ini. Hanya masalah biasa ! Aku dan Noe hanya salah paham. Tak lebih dari itu.
Tak lama, acara pun dimulai. Aku mendengar alunan musik pembuka menggelora di sekolah ini. Semua anak, kulihat, ikut menyanyikan lagu sambil menikmati iringan musik dengan gembira. Sebenarnya, aku juga ingin bergabung dengan mereka. Namun, lagi-lagi hatiku lebih memilih untuk pergi ke dunia itu. Duniaku ... dunia fatamorgana
Saat dan ketika ruang dalam waktu tak henti memanggil satu jiwa. Yang terjadi hanya bayang semata. Saat dan ketika lorong kesunyian bertemu dengan satu cita. Yang terjadi hanya angan dalam raga. Cinta ... telah menjadi dahaga. Cinta ... terlanjur termakna. Maka, biarlah ! Keberadaannya termanja oleh rasa. Fatamorgana ... tak hilang. Sang pemakna telah datang. Jadikannya rasa sayang. Dan senja pun memerah saat petang
“Kebakaran ! Kebakaran ! Tolooong !!” sebuah teriakan membawa nyawaku kembali pulang. Hah, kali ini nyawaku dengan mudah tertarik ke dunia nyata. Bahkan aku tidak merasakan adanya getaran jiwa ketika nyawaku kembali ke dunia nyata ini. Tidak seperti biasa !
“Cepat, cari bantuan ! Ada beberapa orang yang terperangkap di dalam sana !” ucap seorang anak dengan suara yang gemetar. Mendengar nada bicaranya yang seperti itu, aku pun ikut gemetar. Dan tiba-tiba saja, aku merasa terlempar lagi ke duniaku. Fatamorgana ... Fatamorgana ! Cinta ketika satu, adakah rasa haru ? Atau hanya bayang semu ?
“Hei, cepat ! Selamatkan mereka ! Ayo, semuanya cari air ! Kau ... jangan melamun saja !!” Cubitan seseorang menyadarkanku kembali. Namun ... Tidak !!
Cinta tak hadirkan tanya. Bias makna kembali terjaga. Lantas, sedang apa kau di sana ? Mencari cinta ... atau hanya sanggup pejamkan mata ?
“Wein, ada di sana ! Ayo, lekas selamatkan dia !”
Wein ... ?? Wein ada di sana ? Mendengar nama pria itu, aku segera berlari. Berlari sekuat tenagaku. Aku tidak ingin Wein terluka ! Hanya itu yang terlintas dalam benakku.
Cinta sedang lara. Seseorang berkelana. Mencari sosoknya. Namun, ketika sampai ia di sana. Puing bertebaran, merefleksikan cermin prasangka.
Tidak !! Kumohon, aku sedang tidak ingin ke duniaku. Aku ingin ... Aku ingin ...
Harga diri menepiskan cinta. Maka, jadikanlah bahagia ...
Wein, aku akan menyelamatkanmu ! Tunggu, aku !
“Masih punya naluri untuk menyelamatkan teman sebangkumu ?” ucap seseorang ketika aku sampai di gedung yang penuh dengan kobaran api itu. NOE !!
“Bukankah kau lebih senang dengan duniamu ? Untuk apa masih di sini ? Pergilah ! Wein tidak butuh pertolongan yang semu !!” ucapnya lagi. Sejujurnya, mendengar semua ucapan Noe, aku merasa terlempar kembali ke duniaku. Namun, jiwa dan ragaku, kupertahankan hingga aku sanggup menahan tarikan ruang dan waktu itu.
“Kau tahu, walau aku mencintai duniaku, itu semua tidak menjadikanku sebagai manusia yang tidak berperasaan ! Justru sebaliknya, aku belajar banyak dari imajinasiku. Imajinasiku adalah guru pribadiku !”
“Guru ?! Heh ... aku baru dengar ! Kau tidak sedang bergumam kan ? Atau jangan-jangan kau tidak sadar dengan apa yang kau bicarakan barusan. Maksudku, yang berbicara bukan kau, tapi jiwa lain yang memasuki tubuhmu.”
“Tahu apa kau tentang semua itu ?!”
Kulihat api semakin membesar dan Wein belum juga ditemukan. Aku semakin gelisah. Jantungku berdebar kencang. Tubuhku juga gemetar.
“Maaf ! Apa Wein sudah ditemukan ??” tanyaku pada salah satu murid di sekolah ini juga.
“Sepertinya belum. Api semakin membesar, mana ada yang berani mengambil resiko ? Kita tunggu saja, siapa tahu Wein bisa menyelamatkan dirinya sendiri,” jawab anak itu.
“Tunggu ?!! Bagaimana mungkin kita bisa menunggu sementara api semakin membesar. Memangnya kau pikir dia itu apa ? Dia manusia yang sama seperti kita. Dalam keadaan seperti ini, dia .... Hah ! Percuma ! Kalian semua pengecut !! Percuma hidup dalam dunia nyata, lebih baik kalian semua pergi ke fatamorgana !”
“Hei, jangan ! Dasar orang nekat !!”
Aku kecewa ! Aku benar-benar kecewa, Wein ! Kau bilang dunia nyata lebih indah dari dunia fatamorgana yang selama ini kukunjungi. Kalau memang indah yang kau maksud adalah seperti ini, aku memilih untuk tetap berada di duniaku. Kau tahu, mungkin lebih baik aku tak lagi ada di dunia ini. Aku benci dengan kehidupan yang hanya ada jika kita merasa bahagia. Lantas, kemana kita harus pergi saat satu titik kesedihan menjumpai kita ?
“Wein !! Uhuk ... uhuk !! Wein, dimana kau ?” teriakku sekuat tenaga.
Cintaku terbelenggu. Aku pun mulai rapuh. Kemana dirimu ?? Hanya kelabu.
“Wein !! Bicaralah ! Aku tidak bisa menemukanmu !”
“Nuan .. Nuan ...” Samar-samar aku mendengar suara Wein.
“Wein ? Ternyata kau di sini ...”
“Nuan ? Kau ?”
“Ayo, kita pergi ! Wajahmu sudah menghitam. Uhuk ... uhuk !!”
Cinta menghampiri. Hati kembali menari. Bersama bahagia yang ikut menyertai.
“Apa kau ingin membawaku ke fatamorgana itu ?” Tiba-tiba Wein bertanya padaku.
“Tidak ! Kau tidak boleh ke sana, hanya aku yang boleh ke sana.”
“Kau curang ! Pokoknya aku ingin ke sana. Giliranku melihat keindahan itu.”
“Wein, jangan ! Kau tidak akan bisa kembali ke dunia ini. Kau akan terjebak dalam ruang waktu itu. Rasanya akan sesak. Dan kau ...”
Tiba-tiba jiwaku tak bisa kukendalikan. Jiwaku seperti bermain-main di atas sana. Aku melihat Wein. Ya, dia tersenyum bahagia bersama diriku. Dia memegang erat tanganku. Kulihat dia benar-benar bahagia.
Semua putih. Dingin juga menyertaiku. Tapi, kemana Wein ? Dia menghilang !! Tak lama, pandanganku pun kabur. Aku mendengar suara-suara yang begitu memekakkan telinga.
“Nuan ...”
Aku mendengar suara itu. Tidak salah lagi, itu adalah suara Wein !
Aku tersadar. Kubuka mataku pelan. Tak kusangka, tanganku begitu erat memeluknya. Seolah aku tidak ingin kehilangan dirinya.
Cinta menemui akhir. Akhir tak terkira ... karena fatamorgana.
Itukah cinta ?  “Ya !”  Cinta dalam hatiku.
Wein tersenyum padaku. Kulihat dia begitu bahagia. Ya ... hal itu tergambar jelas dari sinar matanya yang indah. Tak lama, mata kami pun terpejam. Gelap. Hampa. Dalam kobaran api yang panas, kami menuju fatamorgana. Bersama cinta yang telah termakna. (daneguka)

1 komentar:

miezfy mengatakan...

Wah...ceritanya unik

Poskan Komentar

Harus bin wajib isi komentar.. oke.. hehe

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
Copyright 2010 FIKSI