You Are Reading

1

Tunjuk Satu Bintang

miezfy Selasa, 04 Januari 2011 , ,


Malam malam berjalan seperti biasa. Sudah tiga tahun lamanya sejak kulangkahkan kakiku di kota ini, kota yang tidak jauh dari tempat kelahiranku yang metropolis, kota yang selalu penuh dengan limpahan air hujan. Meski panas di siang hari tak berbeda jauh dengan teriknya kota Jakarta, tapi ketika malam tiba suasana pedalaman desa mulai terasa. Seperti malam ini dan malam-malam yang biasa kulewati, aku merasa begitu dingin dan jaket ungu kesayanganku seperti biasa menemani malam-malamku yang sunyi. Tapi ada yang tidak biasa malam ini. Hujan yang turun seharian hampir tanpa henti hari ini, dan kondisi desa yang tengah mengalami mati listrik membuatku dengan leluasa memandang sesuatu yang begitu mengesankan. Malam ini berjalan seperti biasanya, begitu sunyi tapi aku dapat memandang lukisan langit yang berkilauan begitu indah. Sebuah panorama malam yang dapat membuat hati gundah menjadi indah, hari yang sepi menjadi berarti.
            “Bintangnya keren banget ya” suara Rei menyadarkanku dari lamunan panjang.
            “Ternyata mati lampu ada gunanya juga, langit jadi terlihat jelas” lanjut Rei. Dia adalah teman sekamarku sejak dua tahun yang lalu.
            “Ta, kamu baik-baik saja kan?” Tanya Rei yang mulai bisa membaca kerisauan hatiku.
            “Aku baik-baik saja Rei. Aku heran, kenapa semua orang berpikir aku akan sangat terganggu karena gosip tentang Kak Rizal dan Kak Anita?” kataku sambil tersenyum tenang.
            “Ya, soalnya Kak Rizal kan satu-satunya cowok yang deket sama kamu melebihi teman, Sebelum digosipin sama kak Anita digosipinnya sama kamu kan?” kata Rei.
            “Tapi kamu sendiri tahu kan kalau gosip itu tidak benar adanya. Rei, aku dan kak Rizal itu hanya partner se-tim di organisasi, jelas saja kelihatan dekat. Jujur aku memang terganggu oleh gosip tentang kak Anita, tapi itu karena gosip tersebut sepertinya mengganggu kestabilan kak Rizal yang ujung-ujungnya berpengaruh ke kinerja dia Rei, cuma sebatas itu” kataku mencoba meyakinkan.
            “Berarti kamu gak punya perasaan apa pun pada kak Rizal?” tanya Rei. Aku menggeleng.
            “Kak Rizal yang pinter, super cakep, super baik, super keren, dan super bijaksana itu, kamu gak tertarik sedikit pun sama dia?” tanya Rei lebih menegaskan. Aku tertawa lalu menggeleng yakin.
            “Kok kelihatannya kamu yang suka sih? Haha. Memang kenapa? Aneh ya?” tanyaku heran.
            “Bukannya gitu Ta. Gini ya, tiga tahun aku kenal kamu tapi kamu gak pernah cerita apa pun tentang orang yang kamu suka. Selama ini aku pikir itu kak Rizal orangnya soalnya dia yang paling dekat denganmu. Bukan ya? Lantas siapa?” tanya Rei mulai penasaran. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja memunculkan sebuah sosok yang benar-benar ingin aku lupakan. Aku memandang langit cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Rei.
            “Aku selalu berharap orang yang kusukai adalah seorang bintang” kataku pada Rei. Temanku itu jelas kebingungan. Apa hubungan pertanyaannya dengan bintang di langit?
            “Bukannya gak enak kalau begitu? Kan jadi susah diraihnya” kata Rei mencoba mengerti.
            “Memang. Tapi jika ia adalah bintang, aku akan dengan mudah menemukannya, aku bisa dengan mudah melihat dan mengetahui keberadaannya, aku bisa dengan mudah menyimpan foto dan hal-hal penting tentang dirinya. Dan yang paling penting, aku  bisa dengan mudah, bebas, dan leluasa untuk menyukainya” kataku menjawab pertanyaan Rei.
            “Sudah hampir lima tahun dan aku tak pernah melihat orang yang kau tanyakan itu Rei. Aku tak tahu keberadaannya, aku tak bisa menemukannya seperti aku menemukan bintang di malam hari. Aku, tak bisa dengan mudah, bebas, dan leluasa menyukainya karena aku tak punya alasan kuat untuk menyukainya. Dia begitu jauh sehingga aku pun juga tak bisa meraihnya. Makanya tadi kukatakan, akan lebih baik jika aku menyukai bintang, karena meskipun tak dapat diraih, aku bisa melihatnya dengan leluasa” kataku.
            “Wah…rumit sekali perasaanmu Ta. Ck ck. Ya, di dunia ini ada begitu banyak bintang Ta. Kupikir setiap malam banyak bintang baru yang bermunculan, ada juga bintang yang tidak kelihatan dan bersembunyi di balik awan. Tapi bagi penonton biasa seperti kita, bintang itu terlihat sama bukan? Anggap saja kau sedang menyukai seorang bintang yang tidak terlihat dan sembunyi di balik awan, tapi kau bisa menemukannya di dalam diri bintang lain yang terlihat. Atau daripada repot-repot mengharapkan kehadiran bintang di balik awan itu, ada baiknya kamu melihat bintang-bintang yang ada di sekelilingmu. Pasti ada satu bintang yang sangat terang sekali” kata Rei. Pembicaraan kami terhenti sampai di situ karena lampu tiba-tiba menyala dan kami harus meneruskan pekerjaan dengan kotak segiempat bernama laptop yang sempat tertunda oleh penghematan listrik secara sepihak.

            “Arita” seseorang memanggil namaku pelan membuatku menghentikan langkahku sejenak dan mencari si pemilik suara.
            “Ada apa kak?” tanyaku pada pemuda yang menyapaku itu.
            “Gini Ta…mm..duh, gimana ya ngomongnya” kata pemuda itu terlihat bingung.
            “Rizal….” Seseorang memanggil nama pemuda itu dan menghampirinya.
            “Hai Ta. Eh Zal, sumpah ya, gosip lo macarin anak Rektor itu menyebar hebat. Gw heran sama lo, lo kasih apa si Anita sampai bisa jadian sama lo” kata orang yang tiba-tiba datang itu.
            “Duh Dion, emangnya gw ada tampang suka macarin orang apa? Itu cuma gosip. Payah lu ah, temen sendiri kemakan gosip” kata Rizal kepada Dion.
            “Ah, mau gosip mau bukan, sekarang ini yang penting adalah lo harus tahu bahwa lo itu mendadak terkenal” kata Dion.
            “Ha?” reaksi yang wajar jika Rizal merasa heran, aku si pendengar kebetulan ini pun heran.
            “Pagi kak Rizal” seseorang yang baru saja lewat menyapa Rizal dengan lembut.
            “Eh, kak Rizal, makin cakep aja” orang yang berbeda pun menyapa begitu saja.
            “Assalamualaikum kak Rizal, salam ya buat kak Anita” keheranan kami pun terjawab.
            “Lo itu Dam, sebenarnya terkenal gara-gara nama Anita. Tapi, lama-lama juga lo dikenal sebagai orang jenius dengan IPK bertahan 3,8, juara karya tulis ilmiah tingkat lokal, nasional, dan internasional, jago basket dan catur, ketua Senat Fakultas, dan tampang lo juga gak jelek-jelek banget” kata Dion menambahkan, tapi sepertinya Rizal tidak terlalu suka kondisi ini.
            “Tapi gw kan anak mesjid Bro…..” katanya terlihat menyesal. Dion hanya tertawa karena reaksi inilah yang ingin ia lihat dari sahabatnya. Setelah puas mempermainkan temannya ia pun pergi.
            “Jadi? Tadi kak Rizal mau ngomong apa ya?” tanyaku menyadarkan Rizal bahwa aku masih berdiri di sini.
            “Ah..iya Rita, masalah itu…” kata Rizal mulai menbingungkan.
            “Kakak mau kasih tahu kalau gosip itu tidak benar? Aku percaya kok kak” kataku menebak.
            “Ah….iya Ta, jangan marah ya….” Kata Rizal dan membuatku bingung setengah mati.
            “Kenapa harus marah?” Tanyaku heran.
            “Lho? Kamu gak marah toh? Katanya anak-anak kamu marah gara-gara kinerjaku jadi keganggu karena gosip itu. Kamu kan sekretarisku Ta, jadi wajar kamu marah karena kestabilan kita keganggu” kata Rizal meneruskan. Aku menghela napas dan ingin sekali mengutuk kebodohan orang ini. Jelas saja banyak orang yang salah paham.
            “Sejak kapan Arita Nurhasanah ini jadi sekretaris pribadimu kak? Ckck. Aku tidak marah. Jadi tak usah khawatir, dan sebaiknya kakak siap-siap karena jam tiga ini akan ada forum dekanat untuk membicarakan masalah orientasi mahasiswa baru” kataku menjelaskan.
            “Lho? Forumnya hari ini?” tanya  kak Rizal dan membuatku tambah kesal.
            “Hari ini jam tiga, Kalau kakak datang telat maka seperti biasa wajib mentraktir satu kepengurusan untuk makan malam” kataku tegas namun tetap terlihat tenang. Sebuah pernyataan yang kelihatannya selalu ampuh untuk mengatasi orang seperti kak Rizal.

            Forum dekanat pun akhirnya berlangsung. Tapi nampaknya malam ini aku dan teman-teman Dewan Senat akan sedikit bersenang-senang karena ternyata ketua Sie Acara kami, Rizal Anugrah, datang terlambat sekitar delapan menit. Tapi sepertinya bukan masalah besar, karena keterlambatannya itu tergantikan oleh presentasi yang mengagumkan dan mengundang tepuk tangan yang meriah. Ya, dalam hal ini kuakui dia memang luar biasa. Meski pun orang-orang bilang dari segi tampang, prestasi dan keahlian di bidang olahraga, orang ini juga tidak kalah luar biasa. Di dalam ruangan itu ada kak Anita sebagai undangan mahasiswa berprestasi yang akan mengisi acara di orientasi nanti. Ah, kalau orang yang satu ini, jelas dia adalah bintang yang sesungguhnya. Prestasinya di bidang akademik benar-benar mengagumkan. Dia memiliki tiga penghargaan Internasional di bidang presentasi dan karya tulis ilmiah. Wajahnya cantik dengan rambut tergerai panjang seperti bintang iklan shampo. Kulit yang putih mulus membuat wajahnya yang tanpa make-up itu menjadi pujaan banyak pria. Gadis ini benar-benar idola. Ia pun pintar olahraga dan menyanyi. Kepribadiannya lembut dan mudah disenangi banyak orang. Bukan orang yang sombong pula. Benar-benar sempurna. Siapa pun laki-laki yang digosipkan dengannya jelas akan mendadak terkenal dan kak Rizal adalah laki-laki itu. Meskipun aku tahu, kak Rizal lebih menyukai wanita berkerudung yang sederhana dibandingkan bintang seterang kak Anita.
            “Baik, kali ini saya persilahkan sekretaris saya untuk menyampaikan data administrasi mengenai komposisi pria wanita dan asal kedaerahan mahasiswa baru yang bisa kita jadikan referensi dari konsep yang baru saja saya sampaikan” kata Rizal yang akhirnya memberiku giliran untuk berbicara. Aku pun menyampaikan semua hal yang telah kususun. Soal menulis dan prsentasi mungkin aku tidak sejago kak Rizal dan kak Anita. Tapi, toh aku tetap bisa membuat semua peserta forum terpana pada data yang kusampaikan dan tetap saja aku mendapatkan tepuk tangan yang hangat.
            “Rizal, Arita. Selamat. Presentasi kalian bagus sekali. Saya sangat suka konsep dari tim acara” kata pak Dekan seselesainya forum. Aku dan kak Rizal jelas saja tersenyum senang.
            “Nanti, pas acara orientasi, saya berencana mau mengundang orang yang saya kenal sebagai seorang pembicara. Yah, memang sih. Profesinya tidak nyambung dengan fakultas kita. Tapi saya pikir dia adalah salah satu contoh pemuda sukses yang selama kuliah telah menunjukkan prestasi dalam perjuangannya. Kan selama ini fakultas kita selalu menunjukkan prestasi di bidang akademik. Nah, anak ini sangat prestasi di bidang entrepreneurship” kata dekan.
            “Kalau boleh tahu, lulusan mana dan profesinya apa ya pak?” tanya Rizal.
            “Dia lulusan Institut Teknologi Bandung. Profesinya sebagai seorang Arsitek muda” kata dekan. Awalnya aku menyerahkan sepenuhnya masalah itu pada kak Rizal, tapi mendengar nama ITB dan Arsitek disebut, entah kenapa aku merasa tertarik.
            “Sepertinya bagus pak jika dijadikan pembicara. Kita juga butuh referensi dari dunia luar sih pak. Biar anak-anak fakultas kita tidak terpaku pada suasana fakultas saja” kataku.
            “Baiklah, nanti nak Rizal tolong hubungi. Nih nomornya. Anaknya insyaAllah baik dan menyenangkan. Masalah bayaran gak usah terlalu dipikirkan. Kasih plakat saja, dia kenalan saya kok” kata pak Dekan menyerahkan sebuah kartu nama yang aku tidak berkeinginan untuk melihatnya.

            Menjelang masa orientasi mahasiswa baru, semua orang sibuk.  Meskipun di senat Fakultas aku adalah seorang sekretaris, tapi di acara tersebut aku dipercaya lagi menjadi anak buah kak Rizal sebagai staff divisi acara meskipun tetap saja jadi sekretaris divisi. Paling tidak, rasanya jauh lebih menyenangkan dibandingkan hanya menulis  notulensi, mengurusi presensi dan surat-surat. Kak Rizal sendiri dipercaya sebagai ketua Divisi acara.  Kesibukan yang teramat sangat bahkan membuatku jarang bertukar cerita lagi dengan Rei, teman sekamarku yang tidak terlibat acara ini. Aku menikmati kesibukan ini sampai pada hari orientasi tiba.
            “Rita, kamu bisa gak jemput pembicara? Kamu kan bisa nyetir. Orang itu bawa mobil kok, jadi kamu cuma bertugas sebagai penunjuk jalan. Aku hari ini jadi kordinator lapangan, jadi pembicara yang orang ITB rekomendasi pak Tony itu gak sempet terurus. Tugas juklak udah beres kan? Time keeper sudah dikasih tugasnya ke Hana” kata kak Rizal memberiku tugas. Aku menyanggupi dan ia memberikan kunci motor padaku.
            “Sepuluh menit lagi di gerbang kampus. Mobilnya itu APV warna putih dengan plat mobil B 2310 AD” kata kak Rizal. Aku pun langsung pergi.
            Aku tiba lima menit lebih awal di gerbang kampus dan kulihat mobil yang dibilang kak Rizal pun sudah ada. Aku menyapa si pembicara dan memberinya isyarat untuk mengikutiku. Di tempat ini kami tidak bisa mengobrol banyak karena terlalu banyak mobil yang lalu lalang. Lagipula sebelumnya kak Rizal sudah menghubungi beliau bahwa aku akan menjemputnya.
            Mobil APV putih itu mengikutiku hingga ke tempat parkir. Tempat parkir motor dan mobil memang tidak sama, tapi tidak terlalu jauh. Aku langsung menghampiri si pembicara yang tengah menutup pintu mobilnya dan menguncinya.
            “Maaf ya Pak, tadi saya tidak menyapa langsung, soalnya banyak mobil” kataku pada sosok itu. Sosok yang tiba-tiba saja membuatku terkejut saat ia membalikkan badannya.
            “Kamu benar-benar gak sopan. Masa manggil saya Pak. Lupa ya sama saya?” kata orang itu yang membuatku diam dan tiba-tiba saja bingung harus berkata apa. Aku memang tidak pernah tahu nama pembicara ini karena aku sibuk mengurusi administrasi sie Acara. Saat di gerbang tadi, orang ini memang bisa melihatku dari kaca mobilnya, tapi aku tidak bisa. Hanya saja, tidak pernah sekali pun aku menyangka bahwa lulusan ITB, arsitek muda berbakat yang dibanggakan pak Tony itu adalah…
            “Kak…Ryan?” akhirnya aku pun mengeluarkan keberanianku berbicara. Orang itu tersenyum. Oh Rei, bintang yang bersembunyi di balik awan itu tiba-tiba muncul di hadapanku dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Wajah Rei yang biasanya memberi nasehat pun tiba-tiba muncul dan memberitahuku bahwa jangan sampai aku lupa tentang profesionalisme dalam menjalankan amanah.
            “Sama sekali tidak menyangka, arsitek muda berbakat yang diceritakan pak Tony itu adalah kakak. Maaf ya kak, saya tidak sempet memeriksa baik-baik nama pembicara sih. Hehe” kataku dan kurasakan wajahku memerah sepenuhnya. Reaksi yang sama seperti dahulu, saat pertama kali aku bertemu dengannya.
            “Santai aja Arita. Lama ya tidak bertemu. Pengen ngobrol-ngobrol banyak nih sama orang yang satu almamater, tapi acaranya sudah mau mulai bukan?” kata kak Ryan menyadarkanku akan waktu. Aku pun mengajaknya ke tempat acara berlangsung. Oh Rei, rasanya waktu ingin terhenti saja. Lima tahun penantian dan baru bertemu di saat yang tidak terduga.
            Kak Rizal menyadari keanehanku. Aku yang cerewet ini tiba-tiba saja diam tanpa kata. Acara yang diisi oleh kak Ryan selalu menarik. Sama seperti dulu. Aku tak pernah berhenti tertawa mendengarkan humor-humornya yang segar dan cerdas. Saat itu tanpa sadar aku sudah jatuh cinta padanya. Apalagi, ia adalah seorang mahasiswa Arsitektur ITB, cita-citaku dahulu. Hanya saja, aku merubah cita-cita itu sehingga bersekolah di jurusan IT ini. Kupikir hanya sebuah kekaguman, tapi lama-kelamaan aku tak pernah bisa melupakannya. Hingga saat ini. Interaksi ku secara langsung padanya hanya berlangsung dua kali, yaitu saat menanyakan masalah Arsitektur ITB dan tentang kenalan ayah yang katanya dosen di sana. Hanya itu, tapi tidak pernah bisa kulupakan.
            “Ta….kamu suka ya sama arsitek itu?” kak Rizal menyadarkanku.
            “Apaan sih kak? Pertanyaan aneh” protesku.
            “Kamu lagi yang aneh. Jangan-jangan kamu termasuk cewek-cewek yang di sana itu ya? Anak baru yang kesemsem tiba-tiba sama orang keren yang baru aja datang” kata kak Rizal dari balik panggung menunjuk sekumpulan anak baru yang sepertinya memuja kekerenan kak Ryan. Padahal sebelum kak Ryan masuk, kak Rizal juga sempat masuk untuk jadi moderator acara sebelumnya dan reaksinya sama. Mereka penggemar instant. Enak saja disamakan denganku. Kalau aku, sudah lima tahun aku menjadi penggemar bintangku yang bersembunyi di balik awan itu.
            “Gak jawab, berarti benar” kata kak Rizal mulai meledek. Aku pun tidak memperdulikannya. Aku justru memperhatikan setiap kata yang diucapkan kak Ryan, lalu tertawa karena guyonannya yang unik dan kurindukan. Acara hari ini selesai, aku minta izin kepada kak Rizal untuk tidak ikut evaluasi. Aku jujur padanya bahwa kak Ryan adalah alumni sekolahku dulu dan aku benar-benar ingin mengobrol beberapa hal dengannya. Seperti mimpi karena kak Ryan mengajakku makan di kantin.
            “Oh, jadi kamu sekretaris Dewan Senat. Pantesan dekat dengan pak Tony. Tak disangka ya, kamu berubah sekali Arita. Awalnya saya tidak kenal lho, tapi ya…ingat juga sih akhirnya” kata kak Ryan sambil menyantap soto mie kantin kampusku yang terkenal enak.
            “Berubah gimana kak?” tanyaku berusaha menyimpan rasa maluku.
            “Tambah dewasa dan cantik, kalau dibandingkan dengan waktu kamu umur 15 tahun. Beda sekali lho” katanya membuatku tersipu.
            “Tapi kakak sama sekali tidak berubah” kataku kemudian. Kak Ryan menghentikan makannya.
            “Arita, saya boleh tanya? Kenapa kamu tidak jadi masuk Arsitektur ITB?” Tanya kak Ryan tiba-tiba saja. Aku tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar.
            “Saya kecelakaan kak, sebelum pendaftaran SPMB. Kecelakaan itu membuat saya sudah tidak bisa menggambar dengan baik dengan tangan saya” kataku pada kak Ryan. Tapi aku sama sekali tidak tampak sedih. Namun kak Ryan seperti menyesal menanyakan hal itu.
            “Tenang kak. Memang sih, sekilas seperti saya telah kehilangan cita-cita saya. Tapi justru dari kecelakaan itu saya menemukan jauh lebih banyak cita-cita yang lebih tinggi. Saya pun mulai berpikir untuk menjadi ahli IT bertaraf Internasional, menciptakan berbagai macam program dan rasanya tidak kalah menyenangkan seperti berhasil menciptakan sebuah desain bangunan yang keren” kataku. Kak Ryan pun tersenyum. Benar-benar senyum yang indah.
            “Padahal saya waktu itu berharap besar kamu bisa datang ke jurusan yang sama dengan saya” kata kak Ryan membuatku bingung.
            “Kenapa kak?” Tanya Arita.
            “Mm..kenapa ya? Entah kenapa saya merasa dulu kamu itu begitu istimewa. Mata kamu saat berbicara tentang  cita-cita itu seperti berbinar seterang bintang. Saya suka itu karena pada dasarnya saya bukan orang yang punya cita-cita tinggi. Saya merasa meski hanya sebentar, tapi saya menemukan semangat dari kamu Arita. Rasanya menyenangkan” kata kak Ryan membuat jantungku berdegup kencang. Aku tidak terlalu mengerti apa yang dikatakannya, tapi terdengar menyenangkan sekali.
            “Aku dulu juga suka, dengan cara berpikir kakak. Kakak membuat aku sadar kalau dunia ini luas dan kesempatan meraih cita-cita itu terbuka lebar sekali” kataku mencoba menyembunyikan perasaanku dalam rangkaian kalimat barusan.
            “Wah..kalau begitu kita cocok dong? Sayang ya, manusia itu tidak boleh berandai-andai. Saya membayangkan kalau saja kamu masuk jurusan yang sama dengan saya mungkin kita akan cukup dekat. Haha. Tapi  takdir Allah berkata beda, kamu menemukan hal yang kamu cari di sini dan sepertinya matamu jauh lebih berbinar dibandingkan dulu” kata kak Ryan semakin membingungkanku.
            “Tapi, kakak, susah sekali ditemukan ya. Muncul tiba-tiba dan membuatku kaget” kataku mengalihkan pembicaraan.
            “Oh ya? Aaah, memang sih. Saya tidak terlalu tertarik dengan facebook jadi orang agak susah menemukan saya. Saya sempat ganti nomor tiga kali karena kehilangan Hp, ganti rumah dua kali dan sempet ganti-ganti kantor. Hehe. Ya, namanya juga dinamika kehidupan. Tapi nomor saya yang sekarang itu insyaAllah gak bakal ganti lagi. Simpen ya” kata kak Ryan. Aku mengangguk. Kak Ryan telah menyantap habis soto mienya.
            “Arita, saya harus pergi nih. Ada urusan penting. Tidak usah diantar, kamu juga ada rapat kan? Terima kasih sudah ditemani mencicipi soto mie sini. Ternyata memang enak sekali” kata kak Ryan mengemas barang-barangnya. Aku merasa sangat tidak ingin kehilangan dia secepat ini.
            “Yuk. Assalamualaikum” katanya pergi. Aku pun menjawab salamnya. Aku menyaksikan bintang di balik awanku tiba-tiba menjauh sampai aku tidak dapat melihat punggungnya lagi. Ah…aku bahkan lupa memberitahukan nomor Hp ku.
            “Sudah kencannya?” kak Rizal tiba-tiba datang dan membuatku tersadar.
            “Apaan sih kak?” kataku tersipu dan menunjukkan sedikit rasa kesal yang dibuat-buat.
            “Udah, istirahat dulu sana! Besok kita masih ada acara kan? Nanti jam tujuh kita briefing. Semangat ya, ibu sekretaris” kata kak Rizal yang kemudian pergi begitu saja. Orang ini, bahkan meskipun aku berada di Sie Acara, aku tetap dijadikan sekretarisnya.
            Aku pun kembali ke kosan. Kuceritakan pada Rei apa yang terjadi hari ini. Ia tidak memberiku saran terlalu banyak. Hanya menyuruhku jangan membangun harapan yang tidak-tidak. Itu pun aku sudah tahu. Aku hanya terkejut. Sangat terkejut. Sampai pada saat rapat berlangsung sekitar pukul 19.20, aku dapat sms. Assalamualaikum, Arita. Tadi saya tanya nomor kami dari Rizal. Senang bisa bertemu denganmu hari ini. Aku berharap kamu dan Rizal bisa datang. Nanti biar pak Tony saja yang menyampaikan. Ryan. Karena sedang rapat, aku tidak berani membalasnya. Kurasa, kak Rizal pun telah mendapatkan sms yang serupa. Kami sempat bertemu mata seakan mengetahui hal yang sama tapi lalu melupakannya karena hari ini banyak masalah yang terjadi dan besok adalah pertarungan terbesar kami di acara ini.
“Oh, jadi nak Ryan sudah bilang ya. Padahal saya baru saja mau kasih tahu” kata pak Tony di tengah kesibukannya menandatangani banyak surat.
            “Gini saja, besok kalian dijemput supir saya jam sembilan di depan gerbang kampus ya” katanya singkat dan masih terlihat sibuk. Karena tidak enak mengganggu, kami pun langsung pamitan tanpa mengetahui apa pun selain harus datang jam sembilan di depan gerbang kampus.
            “Memangnya ada acara apa sih?” tanyaku pada kak Rizal.
            “Gak tau. Kalau ada hubungannya dengan kak Ryan, mungkin ada semacam peresmian gedung baru. Soalnya kemarin kak Ryan sempet ngomong kalo dia baru saja menyelesaikan satu project gitu” kata kak Rizal. Aku ber-ooh saja. Tapi aku semakin senang dan bahagia karena jika benar, aku tiba-tiba saja menjadi sangat istimewa karena menjadi undangan yang spesial untuk sebuah moment yang begitu berarti bagi kak Ryan.
Jam Sembilan di gerbang kampus telah tiba. Aku memakai stelan terbaikku hari ini. Kak Rizal saja sampai terpana melihatnya. Tenang saja, aku tidak memakai make-up kok. Hanya bedak, lip ice, dan mascara. Benar-benar natural. Tapi seperti menggambarkan betapa cerahnya hatiku saat ini karena aku akan segera bertemu lagi dengan bintangku yang bersembunyi di balik awan. Tapi kak Rizal juga memakai stelan yang tidak kalah keren. Yah…lumayan lah.
            “Katanya kak Anita juga mau datang lho” kata kak Rizal di perjalanan.
            “Oh ya? Wah, pantesan kakak dandan keren banget kayak gitu. Hehe” ledekku.
            “Oh, kamu mengakui kalau aku ini keren?” kata kak Rizal membuatku menyesali kata-kataku.
            “Tapi, kak Anita benar-benar seorang bintang ya? Rasanya hampir tidak ada acara di kota ini yang berlangsung tanpa kehadirannya. Benar-benar cewek idola” gumamku.
            “Masa sih? Menurutku biasa saja. Dia ikut kan gara-gara pak rektor juga ikut” kata kak Rizal.
            “Iya juga ya. Lagian pak Tony sama pak rektor kan juga kakak adik. Tidak heran mereka ada di acara yang sama” kataku. Tapi tiba-tiba saja aku mulai heran. Kak Ryan dan pak Tony kenalan di mana ya? Aku pun bertanya pada supir pak Tony yang menjemput kami.
            “Oh, mesjid yang kita datangi itu, dirancang oleh nak Ryan. Itu mesjid yang didanai oleh pak Tony dan Pak Hamim” kata sopir. Pak Hamim itu adalah Rektor kampus kami. Memang sih dengar-dengar mereka akan membuat sebuah mesjid terbesar di kota ini. Tapi tidak sangka secepat ini. Jadi itu alasannya kak Ryan kenal dengan dekan kami.
            Kami pun tiba di mesjid yang dimaksud. Benar-benar terkesima dengan bangunan yang berwana perak keemasan yang bernuansa timur tengah. Begitu cantik. Aku membayangkan kerja keras kak Ryan mendesain bangunan ajaib ini.
            “Cantik sekali…..” kak Rizal tiba-tiba bergumam. Ya aku juga berpikir demikian. Tapi mata kak Rizal  bukan tertuju pada bangunan ini melainkan pada seseorang yang baru saja turun dari mobil Avanza hitam. Itu kak Anita yang memakai busana muslim. Ya, dia benar-benar cantik seperti bidadari. Apakah karena ini mesjid, jadinya ia berdandan seperti itu? Ah…tapi dandanan itu bukan sekedar dandanan undangan biasa. Itu terlalu mewah.
            “Cantik banget. Jadi itu mempelai wanitanya?” seseorang yang tak jauh dari kami mengejutkan dan seakan menjawab pertanyaanku. Dunia seakan berhenti saat itu juga.
            “Beruntung banget ya, arsitek yang  bikin mesjid ini. Dapat calon istri yang cantik, pinter, berbakat, kaya pula” kata suara yang lain dan aku merasa seluruh dunia runtuh dan aku ingin segera menghilang dari dunia ini. Jadi hari ini bukan sebuah acara peresmian gedung baru melainkan…
            “Akad nikahnya dimulai lima menit lagi. Ayo dik” si supir mengajak kami masuk tapi aku sama sekali tidak bergerak. Aku baru menyadari bahwa di dekat pintu masuk gerbang mesjid itu ada tulisan “AKAD NIKAH ADRYAN APRIANTO & ANITA LESTARI”.
            “Bapak duluan saja. Kami ada urusan sedikit” kata kak Rizal menanggapi ucapan si supir. Supir itu pun menurut. Aku masih tidak bergeming.
            “Lebih baik menangis di sini Ta. Mumpung sepi” kata kak Rizal seakan tahu masalahku. Aku tidak berani menunjukkan wajahku. Ia bahkan tidak tahu aku menangis atau tidak. Cukup lama aku tidak bergeming. Hanya terdiam saja. Terlalu cepat rasanya merasakan rasa yang amat pahit ini.
            “Dulu, aku pernah membayangkan hal ini benar-benar akan terjadi. Lalu, apa yang akan kulakukan? Menangis meraung seperti anak kecil, menyembunyikan diri di balik bantal…..” aku pun mulai berbicara. Suaraku memang bergetar tapi aku tahu aku tidak menangis.
            “Atau aku akan dengan tegar memberikan selamat dengan seseorang sudah berada di sampingku menggantikan keberadaannya di hatiku” kataku. Aku lalu terdiam lagi. Cukup lama hinggi kak Rizal melangkahkan kakinya hendak menjauh dariku yang terpaku.
            “Aku masuk. Kau ikut tidak?” tanya kak Rizal. Aku masih tidak dapat melangkahkan kakiku.
            “Hei, paling  tidak saat ini ada seseorang di sampingmu bukan? Kalau begitu masuklah dan ucapkan selamat” kata kak Rizal dengan nada tegas dan membuat pikiranku yang tadinya tidak tentu, terkejut oleh ucapannya.
            “Aku…pasti bisa lebih hebat dari orang itu. Dua atau tiga tahun lagi” katanya merendahkan nada suaranya seakan-akan malu, lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke pintu masjid. Desain pintu utama itu sangat unik. Saat kak Rizal melangkah masuk, aku baru menyadari bahwa bentuk ukiran pintu itu sama seperti bintang. Kak Rizal, terlihat seperti bintang yang sangat terang sekali. Aku pun melangkah masuk mengikutinya dan kata-kata Rei terngiang kembali di telingaku.
Daripada repot-repot mengharapkan kehadiran bintang di balik awan itu, ada baiknya kamu melihat bintang-bintang yang ada di sekelilingmu. Pasti ada satu bintang yang sangat terang sekali.

1 komentar:

Luna Azzura mengatakan...

Kadang-kadang, langit memang kelihatan kosong, tetapi bintang tetap ada di sana. Bumi hanya berputar. :)
(Perahu Kertas)

Posting Komentar

Harus bin wajib isi komentar.. oke.. hehe

 
Copyright 2010 FIKSI