You Are Reading

2

OUR TREASURE part 0

Kyoko Ayaname Senin, 13 Desember 2010 , , , , ,

Aku selalu berpikir mengenai keberadaan manusia di muka bumi. Rasanya indah sekali dapat menjalani kehidupan yang amat manis walau sekejap. Aku terus berpikir apa yang dapat kuberikan untuk dunia ini dengan segenap daya dan kekuatan yang kumiliki. Senyumpun sering singgah di bibirku tiap kali datang waktu dimana aku menemukan hal-hal baru dalam kehidupanku dan kehidupan orang-orang di sekitarku.

Well, rasanya semua hal yang terjadi hampir selalu bisa membuatku tersenyum pada akhirnya.
Sesuatu yang mengerikan sekalipun, yang menyedihkan, bahkan yang memalukan berhasil menarik sudut-sudut bibirku kala aku mengenangnya. Walaupun sudah hampir tiba masaku untuk memejamkan kedua kelopak mataku yang penat ini, aku masih belum bisa berhenti tersenyum dan tersenyum, lagi dan lagi. Bagaimana mungkin aku bisa sementara apa yang senantiasa menjadi kebahagiaan untukku berputar-putar mengitari seluruh tubuhku. Seolah aku sudah berhasil mendapatkan harta karun yang selama lebih dari setengah abad kucoba temukan. Saat ia kugenggam erat dalam tiap ruang kosong dalam pikiranku, tak mungkin aku bukan manusia paling bahagia di dunia saat ini.

Ah, aku teringat masa dimana aku dalam perut ibuku. Ibu selalu membelaiku penuh kasih, hangat tangannya menembus perutnya yang membuncit besar Karena ada aku di dalamnya. Aku juga ingat dinginnya kecupan ibu di keningku ketika demam berdarah menyerangku di usia 2 tahun, rasa dingin menggelitik dari air mata yang meleleh melintasi pipinya. Dekapan ibu adalah selimut paling hangat di tiap tidurku. Ibu, aku rindu padamu. Semoga kita bisa segera bertemu di tempat terindah di sana.

Ayah, selalu dengan peluh di dahinya. Dirinya yang sedang membajak di sawah adalah gambaran pahlawan paling hebat sepanjang sejarah bagiku. Amarahnya ketika aku kalah berkelahi dengan teman yang menjahiliku. Tawanya saat kukatakan padanya aku ingin meminang perempuan yang mendampingiku sekarang. Bayangannya yang mengikuti kemanapun aku berjalan. Haha…, memang caraku berjalan amat menyerupainya. Aku juga berharap dapat mengecup tangannya dan ibu saat aku bertemu di tempat terindah itu segera.

Fuih…, ternyata di usia seperti ini aku tetap orang yang manja, berharap kembali menjadi anak kecil yang dibelai dan digendong oleh orang tuaku. Lucu, tapi aku tidak malu memikirkannya. Heran juga rasanya, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan istri dan anak-anakku setelah kepergianku nanti. Entah kenapa hanya ada rasa bahagia karena yakin mereka akan baik-baik saja. Ketabahan wanita yang telah setia di sisiku dalam kerasnya hidup selama 26 tahun ini tak kan goyah. Begitu pula dengan ketiga putriku, aku sangat yakin mereka adalah wanita paling bijaksana yang pernah kutemui dalam sepanjang napasku. Aku percaya cucu-cucuku akan tumbuh sebagai laki-laki yang akan menaklukkan kebobrokan dunia ini.

Wah…, tampaknya sudah datang saatnya. Bisa kurasakan dalam setiap sel darahku yang menggelegak ada yang memanggilku, menarikku…

_bersambung_

2 komentar:

Azmi Azhari mengatakan...

wah ini ichal ya teh? tipe cerita yang kilas balik? ko disini udah menikah? dicerita yang satunya kenal sm almira.. siapa itu teh? hehehe..
kreeen banget.. ceritanya.. nulis trus teh..

faa_miharu mengatakan...

ya azmi..., ini ttg ichal dan harta karun kehidupan yg ia temui...
part 0 ini ttg dia yg berada di akhir hayatnya...
part 1 dan seterusnya menceritakan harta karun yg ia temui dlm hidupnya...
bgn pertama dalah harta karun yg ia temukan pertama kali
makasih...

Poskan Komentar

Harus bin wajib isi komentar.. oke.. hehe

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
Copyright 2010 FIKSI